Di tengah masifnya gempuran tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global, dua siswa kelas 11 SMA Kartika XIX-1 Bandung memilih jalur berbeda. Ardellio Satria Anindito dan Muhammad Azhar Ayatullah Al Faridzi tidak sekadar mengejar teknologi yang paling canggih, melainkan teknologi yang paling bermanfaat.
Prinsip itulah yang mengantarkan mereka meraih Juara 2 Kategori Utama "The Gemma 4 Good Hackathon" besutan Google. Menyingkirkan 1.600 proyek dari 1.609 tim yang melibatkan 14.000 peserta — termasuk mahasiswa, periset, dan profesor dari berbagai negara — kedua remaja ini memukau juri melalui aplikasi "TRIDO".
TRIDO adalah aplikasi papan tulis digital terintegrasi AI yang dirancang khusus untuk memudahkan pengajar penyandang disabilitas. Aplikasi ini memungkinkan guru untuk memunculkan materi, peta konsep, teks hingga simulasi fisika di layar papan tulis hanya melalui instruksi suara.
Inovasi ini lahir dari empati Lio (sapaan Ardellio) terhadap guru bahasa Indonesianya saat SMP, Pak Damar. "Beliau adalah penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan motorik sehingga kesulitan menulis di papan tulis atau mengetik di keyboard. Dari situ kami berpikir untuk membuat solusi. Pertanyaan dasar kami bukan apa teknologi yang paling canggih, tapi apa teknologi yang bisa memudahkan?'" ungkap Lio saat ditemui di sekolah, Kamis (15/10/2026).
Nama aplikasi ini sendiri memiliki filosofi mendalam. TRIDO diambil dari kata "Tri" yang berarti tiga, melambangkan tiga pilar tak terpisahkan dalam pendidikan modern; guru, teknologi, dan siswa. Sedangkan "Do" bermakna melakukan atau mengimplementasikan.
"Singkatnya, teknologi itu tidak bisa dipisahkan dari guru dan siswa. TRIDO hadir untuk mengimplementasikan sinergi ketiga elemen tersebut menjadi solusi nyata. Kalau kata orang Sunda, bisa teu bisa, kudu bisa," jelas Lio.
Kerja Keras Satu Bulan dan Pesan Bijak Berteknologi
Hanya diberi waktu satu bulan penuh oleh pihak penyelenggara, Lio dan Azhar membagi tugas secara presisi. Lio memegang kendali sebagai programmer yang merajut algoritma AI, sedangkan Azhar mengambil peran sebagai user interface (perancang visual) agar tampilan materi dan peta konsep tetap rapi dan nyaman dilihat oleh para murid.
Prosesnya tidak selalu mulus. Pada H-3 sebelum Pak Damar diundang untuk menguji coba aplikasi secara langsung, sistem TRIDO mendadak eror. "Kami sempat bingung karena susunan peta konsepnya acak-acakan. Kami kebut perbaikan di lab komputer sekolah dan baru benar-benar selesai di hari H sebelum Pak Damar datang. Alhamdulillah, saat diuji coba semuanya lancar," kenang Azhar.
Keberhasilan merakit AI untuk membantu penyandang disabilitas ini membuat Lio dan Azhar sadar akan pentingnya kontrol manusia terhadap teknologi. Mereka mengajak generasi muda, khususnya para pelajar untuk mengubah mindset dalam menggunakan internet dan gawai.
"Teknologi sekarang sangat canggih. Kita harus bisa menguasainya sebelum teknologi itu menguasai kita. Generasi kita ini adalah tumpuan masa depan. AI memang ada, tapi kreativitas itu berasal dari manusia, bukan AI. AI hanyalah duplikasi. Jadi, gunakanlah teknologi dengan bijak dan arahkan pada tujuan yang bermanfaat," tegas Lio.
Dukungan Ibu Fondasi Terkuat
Di balik kerasnya persaingan coding tingkat dunia, ada sisi humanis yang menjadi bahan bakar utama kedua remaja ini; cinta dari sang ibu. Baik Lio maupun Azhar sepakat, support system terbesar mereka bukanlah perangkat canggih, melainkan doa dan dukungan tanpa henti dari ibunda masing-masing.
"Bunda adalah tempat saya bertumpu dari lahir sampai sekarang. Waktu pengumuman juara, kami sedang di perjalanan pulang. Saat saya kasih tahu TRIDO juara 2 utama dari 1.600 peserta dunia, bunda langsung teriak bahagia, bangga, dan menangis haru karena tidak berekspektasi anaknya di umur 17 tahun bisa jadi juara dunia," cerita Lio bangga.
Senada, Azhar menyebut pencapaian ini adalah persembahan untuk ibunya. "Ibu selalu mendukung saya dalam kondisi apa pun, bahkan memberikan tangannya saat saya kesulitan. Waktu saya beri tahu kabar ini sepulang latihan, ibu saya kaget, senang, dan kami berpelukan. Melihat ibu bangga karena perjuangannya merawat dan mendidik saya berhasil, itu adalah hadiah paling berharga," tutup Azhar.(dsdik.jbr)

0 Komentar