Ticker

6/recent/ticker-posts

Festival 28 Bahasa ke-9 SMK Bakti Karya Parigi, Merawat Keberagaman Bahasa dan Budaya Nusantara

    Keberagaman bahasa dan budaya Nusantara berpadu dalam Festival 28 Bahasa ke-9 yang diselenggarakan SMK Bakti Karya Parigi, Kab. Pangandaran, Rabu (28/10/2026).

Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda, khususnya siswa untuk mengenal, mengapresiasi, serta melestarikan kekayaan budaya Indonesia.

Berlangsung di lingkungan sekolah, festival ini dihadiri sekitar 2.000 pengunjung yang terdiri dari pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Kepala SMK Bakti Karya Parigi, Jujun Junaedi mengatakan, sejak pertama kali digelar pada 2018, Festival 28 Bahasa telah menampilkan sedikitnya 65 bahasa daerah dalam sembilan kali penyelenggaraan. Beragam bahasa dan tradisi Nusantara diperkenalkan melalui pawai budaya, tari daerah, musik, orasi hingga dongeng berbahasa daerah.

"Festival ini tidak hanya menjadi ajang pengenalan bahasa daerah, tetapi juga wadah untuk menampilkan kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia. Selain pertunjukan bahasa dan seni, festival ini juga menghadirkan rumah adat dari berbagai daerah yang dibuat oleh siswa," ungkapnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, sebanyak 30 jenis makanan khas Nusantara hasil olahan siswa turut disajikan kepada pengunjung. Berbagai kekayaan budaya lainnya, seperti pakaian adat, tarian daerah, dongeng, dan hasil kerajinan tradisional juga ditampilkan untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada masyarakat.

Jujun menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan merupakan hasil kolaborasi alumni, relawan, siswa, dan guru SMK Bakti Karya Parigi. Dalam pelaksanaannya, panitia lapangan juga bekerja sama dengan SMAN 1 Sidamulih. Festival ini pun bermitra dengan Unlocking Nusantara serta mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan CSR PT APN.

Melalui festival ini, ungkapnya, SMK Bakti Karya Parigi berupaya menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menghargai dan melestarikan bahasa serta budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

"Semoga Festival 28 Bahasa tahun depan dapat kembali terlaksana dengan pementasan bahasa daerah yang lebih banyak," pungkasnya.(h.dsdik.jbr)




Posting Komentar

0 Komentar