Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 di Kota Cimahi kembali digelar pada Sabtu (21/2/2026) di kawasan eks Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Leuwigajah.
Peringatan momen sakral itu dimulai dari halaman Kantor RW 10 Kelurahan Cireundeu. Selepas itu, para tokoh dan sesepuh Kampung Adat Cireundeu yang mengenakan baju pangsi serta iket kepala khas Sunda berjalan kaki menuju sebuah punggung tebing yang menghadap sebuah lembah.
Di sana, mereka menebarkan bunga dan dan air yang menjadi pengharapan agar alam tidak dirusak lagi. Di lembah yang dulunya gunungan sampah itulah longsor sampah tanggal 21 Februari 2005 terjadi yang merenggut 157 nyawa. Tragedi maut itupun menjadi cikal bakal peringatan HPSN.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan peristiwa longsor 21 tahun lalu dan diperingati kali ini tentunya menjadi pembelajaran dan alarm agar sampah benar-benar harus dikelola dengan baik. Sehingga peristiwa yang merenggut 157 jiwa itu tidak terulang kembali di kemudian hari.
"Mudah-mudahan peringatan ini menjadi pengingat agar jangan terulang kembali untuk yang akan datang. Kita semua harus peduli terhadap lingkungan bagaimana penangan tentang sampah. Apabila sampah tidak dikelola dengan baik, akhirnya menimbulan bencana yang mana mengakibatkan korban jiwa di tahun 2005 yang ada di Cireundeu," kata Ngatiyana.
Pihaknya, kata Ngatiyana, menargetkan di masa depan Kota Cimahi bisa mengelola sampah sepenuhnya. Artinya, tidak ada lagi sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dirinya juga memastikan kawasan di Cireundeu tidak akan lagi dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.
"Kita sampah setiap harinya itu diperkirakan 250 ton, dan ditargetkan nanti zero TPA. Kita akan kelola bersama di Kota Cimahi dan tentunya masalah sampah ini tanggung jawab kita bersama," kata Ngatiyana
Sementara itu bagi warga Kampung Adat Cireundeu, pastinya lupa terhadap peristiwa 'bom sampah' 21 tahun lalu adalah sesuatu yang harus dilawan agar tidak terperosok pada lubang yang sama di masa mendatang.
"Hari ini, kita memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang ke 21. Kita memperingati kejadian 21 tahun lalu intinya ingin memberikan pesan moral," kata Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi di lokasi.
Peristiwa 21 tahun lalu, kata Abah Widi, sebagai bukti keserakahan manusia. Namun semuanya mendadak tak berdaya jika sudah dihadapkan pada kemurkaan alam. Sehingga pihaknya tidak ingin lokasi yang sekarang sudah hijau itu kembali dijadikan tempat pembuangan sampah.
Lokasi yang dulunya dipenuhi gunungan sampah hingga akhirnya meledak yang memicu longsor mematikan itu sudah berubah dengan kehidupan baru. Ada beragam tanaman dari mulai pisang, singkong hingga tumbuh-tumbuhan lainnya yang hidup subur. Mata air pun mengalir jernih.
"Kita berdoa kita berharap jangan dibikin lagi TPA aja. Kan sekarang udah mulai hijau. Kemarin udah ambil air untuk uji lab dengan Dinas Lingkungan Hidup, di sana ada kehidupan, tanaman udah bagus," kata Abah Widi(h.pmkt.cmhi)

0 Komentar