Ticker

6/recent/ticker-posts

#1ThBandungUtama Siskamling Siaga Bencana, Wajah Baru Ketangguhan Warga

    Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempertegas arah pembangunan berbasis ketangguhan masyarakat dengan mentransformasi program Warga Jaga Warga menjadi “Siskamling Siaga Bencana”. Progam ini merupakan sebuah langkah strategis yang menempatkan warga sebagai garda terdepan dalam pencegahan risiko lingkungan.

Program ini menjadi salah satu manifestasi nyata capaian satu tahun Bandung Utama, pembangunan yang tidak hanya fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan sosial menghadapi ancaman bencana.

Transformasi ini lahir dari evaluasi lapangan setelah rangkaian kunjungan pemerintah ke 30 kecamatan sepanjang Agustus 2025.

Dari situ terlihat bahwa persoalan keamanan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor, kebakaran, hingga persoalan sanitasi yang berpotensi menjadi krisis kesehatan masyarakat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, pendekatan baru ini dirancang untuk menggeser pola penanganan dari reaktif menjadi preventif memastikan risiko dikenali dan ditangani sebelum berkembang menjadi bencana.

“Saya akan keliling ke 151 kelurahan untuk memastikan kesiapan masyarakat menghadapi musim hujan. Kita lakukan pencegahan sebisa mungkin sebelum bencana terjadi,” ujarnya, September 2025 lalu.

Menurutnya, Siskamling Siaga Bencana bukan sekadar ronda keamanan tradisional. Sistem ini bekerja sebagai mekanisme deteksi dini berbasis komunitas yang aktif sepanjang hari.

Pada pagi hari, warga bersama aparat memeriksa kondisi lingkungan seperti drainase, infrastruktur, dan potensi kerusakan fasilitas publik.

Pada malam hari, fungsi pengawasan keamanan tetap berjalan guna menjaga stabilitas lingkungan.

“Kalau menunggu yang formal-formal, banyak hal tidak terurus. Maka kami bikin terobosan dengan melibatkan semua warga,” kata Farhan.

Hingga Februari 2026 implementasi, program ini telah menjangkau 82 dari 151 kelurahan di Kota Bandung.

Cakupan ini menjadi fondasi pemetaan risiko yang lebih tajam dan terukur, karena setiap wilayah memiliki karakter ancaman yang berbeda.

Beberapa kawasan menghadapi risiko banjir akibat sedimentasi dan penyempitan drainase. Wilayah lain rawan longsor karena kondisi kontur tanah.

Di kawasan padat penduduk, risiko kebakaran dan penyebaran penyakit menjadi perhatian utama.

Pendekatan berbasis data ini memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran bukan kebijakan seragam, melainkan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Lebih jauh, pemetaan tidak berhenti pada potensi bencana. Pemerintah juga menginventarisasi persoalan sosial dan lingkungan yang memperbesar kerentanan warga, antara lain:
* Sanitasi dan kualitas drainase lingkungan
* Bangunan liar yang menghambat aliran air
* Rumah tidak layak huni dan kepadatan permukiman
* Risiko penyakit seperti TBC dan DBD
* Pendataan tingkat kemiskinan dan kepesertaan jaminan kesehatan
* Penerangan jalan umum dan lingkungan
* Akses air bersih

Pendekatan ini menjadikan Siskamling Siaga Bencana sebagai instrumen terpadu menghubungkan mitigasi bencana dengan kebijakan sosial, kesehatan, dan infrastruktur.

Keunggulan utama program ini terletak pada mekanisme tindak lanjut cepat. Dalam setiap kunjungan, wali kota didampingi anggota DPRD serta perangkat dinas teknis agar keluhan warga dapat langsung ditangani.

Permasalahan ringan seperti saluran air tersumbat atau lampu jalan mati diselesaikan hari itu juga.

Isu yang memerlukan proses administratif segera dijadwalkan untuk eksekusi berikutnya.

Model kerja ini memotong rantai birokrasi panjang dan mempercepat pelayanan publik.

Pemerintah mendorong budaya respons cepat, kolaboratif, dan berbasis data lapangan sebuah pendekatan yang memperlihatkan pergeseran cara kerja pemerintahan kota.

Siskamling Siaga Bencana menandai perubahan paradigma pembangunan perkotaan: warga bukan lagi sekadar penerima layanan, melainkan mitra aktif dalam menjaga keselamatan lingkungan.

Ketika masyarakat memahami risiko di wilayahnya, memiliki mekanisme pelaporan, dan mendapat respons cepat dari pemerintah, maka ketangguhan kota terbentuk dari bawah.

Dalam kerangka satu tahun Bandung Utama, program ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari proyek fisik, tetapi juga dari kemampuan kota membangun budaya kesiapsiagaan kolektif.

Ketahanan sosial yang kuat menjadi fondasi agar setiap ancaman dapat dihadapi dengan kesiapan, koordinasi, dan solidaritas warga.

Siskamling Siaga Bencana pada akhirnya bukan hanya program, melainkan gerakan bersama memastikan Kota Bandung tumbuh sebagai kota yang lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi risiko masa depan.(dskoinf.bdg)

Posting Komentar

0 Komentar